BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebelum penulis memulai pembahasan
lebih lanjut mengenai penyakit malaria, ada baik nya kami memaparkan sedikit
bahwa malaria ialah penyakit berbahaya, penyakit yang telah merenggut jutaan
bahkan mungkin milyaran nyawa di dunia. Penyakit ini sudah berumur ribuan
tahun. Wabah malaria ini di sebarkan oleh makhluk imut kecil yang sangat
berbahaya. Kalian tentu sudah tahu siapa sosok nyamuk itu. Dia hidup
berdampingan dengan kita. Dia bisa ada di mana saja, dirumah, sekolah, pasar,
hotel, perkantoran, bahkan di hutan ataupun gua juga ada. Hewan lemah inilah
yang menyebarkan terror di seluruh bagian dunia ini Walaupun begitu tidak semua
nyamuk bisa menyebarkan/menularkan wabah malaria ini, nyamuk yang menularkan
penyakit ini ialah keluarga “anophles”. Merekalah tersangka dibalik pembunuhan
jutaan jiwa warga dunia.
B.
Tujuan
1.
Untuk lebih memahami
mengenai mekanisme dan pemeriksaan malaria.
2.
Untuk membahas secara
rinci tentang penyakit malaria serta jenis,penyebab, penularan dan gejala penyakit
malaria.
C.
Metode
Penulisan
Metodeyang digunakan pada makalah ini
adalah Metode Pustaka,yaitumetode
yang dilakukandenganmempelajaridanmengumpulkan data
daripustakayangberhubungandenganalat, baikberupabukumaupuninformasi di
internet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Malaria
Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh plasmodium
falsifarum, plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan yang
mix atau campuran yang penularannya melalui gigitan
nyamuk anopheles betina(Kemenkes,2011)
B. Nyamuk Anopheles
Menurut Hiswani (2004) Penyakit malaria adalah salah satu penyakit yang
penularannya melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Berdasarkan survai unit
kerja SPP (serangga penular penyakit) telah ditemukan di Indonesia ada 46
species nyamuk anopheles yang tersebar diseluruh Indonesia. Dari
species-species nyamuk tersebut ternyata ada 20 species yang dapat menularkan
penyakit malaria. Dengan kata lain di Indonesia ada 20 species nyamuk anopheles
yang berperan sebagai vektor penyakit malaria.
Penyebab penyakit malaria adalah genus plasmodia family plasmodiidae dan
ordo coccidiidae. Sampai saat ini di Indonesia dikenal 4 macam parasit malaria
yaitu:
1.
Plasmodium Falciparum
penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria yang berat.
2.
Plasmodium vivax
penyebab malaria tertina.
3.
Plasmodium malaria
penyebab malaria quartana.
4.
Plasmodium ovale jenis
ini jarang sekali dijumpai di Indonesia, karena umumnya banyak kasusnya terjadi
di Afrika dan Pasifik Barat.
Pada penderita penyakit malaria, penderita dapat dihinggapi oleh lebih dari
satu jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed
infection). Dari kejadian infeksi campuran ini biasanya paling banyak dua jenis
parasit, yakni campuran antara plasmodium falcifarum dengan plasmodium vivax
atau P. malariae. Kadang-kadang di jumpai tiga jenis parasit sekaligus meskipun
hal ini jarang terjadi, infeksi campuran ini biasanya terjadi terdapat di
daerah yang tinggi angka penularannya.
1. Siklus Hidup Nyamuk
Anopheles
Semua serangga termasuk nyamuk, dalam
siklus hidupnya mempunyai tingkatan-tingkatan yang kadang-kadang antara
tingkatan yang sama dengan tingkatan yang berikutnya terlihat sangat berbeda.
Berdasarkan tempat hidupnya dikenal dua tingkatan kehidupan yaitu :
a.
Tingkatan di dalam air.
b.
Tingkatan di luar temp
at berair (darat/udara).
Untuk kelangsungan kehidupan nyamuk diperlukan air, siklus hidup nyamuk
akan terputus. Tingkatan kehidupan yang berada di dalam air ialah: telur.
jentik, kepompong. Setelah satu atau dua hari telur berada didalam air, maka
telur akan menetas dan keluar jentik. Jentik yang baru keluar dari telur masih
sangat halus seperti jarum. Dalam pertumbuhannya jentik anopheles mengalami
pelepasan kulit sebanyak empat kali.
Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik antara 8-10 hari tergantung
pada suhu, keadaan makanan serta species nyamuk. Dari jentik akan tumbuh
menjadi kepompong (pupa) yang merupakan tingkatan atau stadium istirahat dan
tidak makan. Pada tingkatan kepompong ini memakan waktu satu sampai dua hari.
Setelah cukup waktunya, dari kepompong akan keluar nyamuk dewasa yang telah
dapat dibedakan jenis kelaminnya.
Setelah nyamuk bersentuhan dengan udara, tidak lama kemudian nyamuk
tersebut telah mampu terbang, yang berarti meninggalkan lingkungan berair untuk
meneruskan hidupnya didarat atau udara. Dalam meneruskan keturunannya. Nyamuk
betina kebanyakan banya kawin satu kali selama hidupnya. Biasanya perkawinan
terjadi setelah 24 -48 jam dari saat keluarnya dari kepompong.
2.
Beberapa Aspek Perilaku (Bionomik) Nyamuk
Bionomik nyamuk mencakup pengertian tentang perilaku, perkembangbiakan,
umur, populasi, penyebaran, fluktuasi musiman, serta faktor-faktor lingkungan
yang mempengaruhi berupa lisan fisik (musim. kelembaban. angin. matahari, arus
air). lingkungan kimiawi (kadar gram, PH) dan lingkungan biologik seperti
tumbuhan bakau, gangang vegetasi disekitar tempat perindukan dan musim alami.
Jika kita tinjau kehidupan nyamuk ada tiga
macam tempat yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Hubungan ketiga
tempat yaitu tempat untuk berkembang biak, tempat untuk beristirahat dan tempat
untuk mencari darah.Untuk menujang program pemberantasan malaria perilaku
vektor yang ada hubungannya dengan ketiga macam tempat tersebut penting untuk
diketahui yaitu :
a. Perilaku
Mencari Darah.
Perilaku
mencari darah nyamuk dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:
1)
Perilaku
mencari darah dikaitkan dengan waktu. Nyamuk anopheles pada umumnya aktif
mencari darah pada waktu malarn hari. apabila dipelajari dengan teliti.
ternyata tiap spesies mempunyai sifat yang tertentu, ada spesies yang aktif
mulai senja hingga menjelang tengah malam dan sampai pagi hari.
2)
Perilaku
mencari darah dikaitkan dengan tempat apabila dengan metode yang sama kita
adakan. Penangkapan nyarnuk didalam dan diluar rumah maka dari hasil
penangkapan tersebut dapat diketahui ada dua golongan nyamuk, yaitu: eksofagik
yang lebih senang mencari darah diluar rumah dan endofagik yang lebih senang
mencari darah didalam rumah.
3)
Perilaku
mencari darah dikaitkan dengan sumber darah. Berdasarkan macam darah yang
disenangi, kita dapat membedakan atas: antropofilik apabila lebih senang darah
manusia, dan zoofilik apabila nyamuk lebih senang menghisap darah binatang dan
golongan yang tidak mempunyai pilihan tertentu.
4)
Frekuensi
menggigit, telah diketahui bahwa nyamuk betina biasanya hanya kawin satu kali
selama hidupnya Untuk mempertahankan dan memperbanyak keturunannya, nyamuk
betina hanya memerlukan darah untuk proses pertumbuhan telurnya. Tiap sekian
hari sekali nyamuk akan mencari darah. Interval tersebut tergantung pada
species, dan dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban, dan disebut siklus
gonotrofik. Untuk iklim Indonesia memerlukan waktu antara 48-96 jam.
b. Perilaku
Istirahat.
Istirahat
bagi nyamuk mempunyai 2 macam artinya: istirahat yang sebenarnya selama waktu
menunggu proses perkembangan telur dan istirahat sementara yaitu pada waktu
nyamuk sedang aktif mencari darah. Meskipun pada umumnya nyamuk memilih tempat
yang teduh, lembab dan aman untuk beristirahat tetapi apabila diteliti lebih
lanjut tiap species ternyata mempunyai perilaku yang berbeda-beda. Ada spesies
yang halnya hinggap tempat-tempat dekat dengan tanah (AnAconitus) tetapi ada
pula species yang hinggap di tempat-tempat yang cukup tinggi (An.Sundaicus).
Pada waktu malam ada nyamuk yang masuk kedalam rumah hanya untuk menghisap
darah orang dan kemudian langsung keluar. Ada pula yang baik sebelum maupun
sesudah menghisap darah orang akan hinggap pada dinding untuk beristirahat.
c. Perilaku
Berkembang Biak.
Nyamuk
Anopheles betina mempunyai kemampuan memilih tempat perindukan atau tempat
untuk berkembang biak yang sesuai dengan kesenangan dan kebutuhannya Ada
species yang senang pada tempat-tempat yang kena sinar matahari langsung (an.
Sundaicus), ada pula yang senang pada tempat-tempat teduh (An. Umrosus).
Species yang satu berkembang dengan baik di air payau (campuran tawar dan air
laut) misalnya (An. Aconitus) dan seterusnya Oleh karena perilaku berkembang
biak ini sangat bervariasi, maka diperlukan suatu survai yang intensif untuk
inventarisasi tempat perindukan, yang sangat diperlukan dalam program
pemberantasan.
3.
Keterangan mengenai vektor
a. Umur Populasi Vektor.
Umur nyamuk bervariasi tergantung pada species dan dipengaruhi keadaan
lingkungan. Ada banyak cara untuk mengukur unsur populasi nyamuk. Salah satu
cara yang paling praktis dan cukup memungkinkan ialah dengan melihat beberapa
persen nyamuk porous dari jumlah yang diperiksa. Nyamuk parous adalah nyamuk
yang telah pernah bertelur, yang dapat diperiksa dengan perbedahan indung telur
(ovarium).
Misalnya dari 100 ekor nyamuk yang dibedah indung telurnya ternyata 80 ekor
telah parous, maka persentase parous populasi nyamuk tersebut adalah 80%.
Penentuan umur nyamuk ini sangat penting untuk mengetahui kecuali kaitannya
dengan penularan malaria data umur populasi nyamuk dapat juga digunakan sebagai
para meter untuk menilai dampak upaya pemberantasan vektor (penyemprotan,
pengabutan dan lain-lain).
b.
Distribusi Musiman.
Distribusi musiman vektor sangat penting
untuk diketahui. Data distribusi musiman ini apabila dikombinasikan dengan data
umur populasi vektor akan menerangkan musim penularan yang tepat. Pada umumnya
satu species yang berperan sebagai vektor, memperlihatkan pola distribusi
manusia tertentu. Untuk daerah tropis seperti di Indonesia pada umumnya
densitas atau kepadatan tinggi pada musim penghujan, kecuali An.Sundaicus di
pantai selatan Pulau Jawa dimana densitas tertinggi pada musim kemarau.
c.
Penyebaran Vektor.
Penyebaran vektor mempunyai arti penting dalam epidemiologi penyakit yang
ditularkan serangga. Penyebaran nyamuk dapat berlangsung dengan dua cara yaitu:
cara aktif, yang ditentukan oleh kekuatan terbang, dan cara pasif dengan
perantaraan dan bantuan alat transport atau angin.
4.
Cara penularan malaria
Penyakit malaria dikenal ada berbagai cara penularan malaria:
a.
Penularan secara alamiah (natural infection) penularan ini terjadi melalui
gigitan nyamuk anopheles.
b.
Penularan yang tidak alamiah.
1)
Malaria bawaan
(congenital).
Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria,
penularan terjadi melalui tali pusat atau placenta.
2)
Secara mekanik.
Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik.
Penularan melalui jarum suntik yang tidak steril lagi. Cara penularan ini
pernah dilaporkan terjadi disalah satu rumah sakit di Bandung pada tahun 1981,
pada penderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intra vena dengan
menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik beberapa pasien, dimana
alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai (disposeble).
3)
Secara oral (Melalui
Mulut).
Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam (P.gallinasium)
burung dara (P.Relection) dan monyet (P.Knowlesi).
c.
Penyebaran Malaria
Batas dari penyebaran malaria adalah 64°LU
(RuBia) dan 32°LS (Argentina). Ketinggian yang dimungkinkan adalah 400 meter
dibawah permukaan laut (Laut mati dan Kenya) dan 2600 meter di atas permukaan
laut (Bolivia). Plasmodium vivax mempunyai distribusi geografis yang paling
Juas, mulai dari daerah beriklim dingin, subtropik sampai kedaerah tropik.
Plasmodium Falciparum jarang sekali terdapat didaerah yang beriklim dingin
Penyakit Malaria hampir sama dengan penyakit Falciparum, meskipun jauh lebih
jarang terjadinya. Plasmodium ovale pada umumnya dijumpai di Afrika dibagian
yang beriklim tropik, kadang-kadang dijumpai di Pasifik Barat. Di Indonesia
Penyakit malaria tersebar diseluruh pulau dengan derajat endemisitas yang
berbeda-beda dan dapat berjangkit didaerah dengan ketinggian sampai 1800 meter
diatas permukaan laut.
Angka kesakitan malaria di pulau Jawa dan
Bali dewasa ini (1983) berkisar antara 1-2 per 1000 penduduk, sedangkan di luar
Jawa-Bali sepuluh kali lebih besar. Sepcies yang terbanyak dijumpai adalah
Plasmodium Falciparum dan Plasmodium vivax Plasmodium malaria banyak dijumpai
di Indonesia bagian Timur. Plasmodium ovale pernah ditemukan di Irian dan Nusa
Tenggara Timur.
C. Gejala Malaria
Adalah penyakit malaria yang ditemukan berdasarkan gejala-gejala klinis
dengan gejala utama demam mengigil secara berkala dan sakit kepala
kadang-kadang dengan gejala klinis lain sebagai berikut :
1.
Badan terasa lemas dan
pucat karena kekurangan darah dan berkeringat.
2.
Nafsu makan menurun.
3.
Mual-mual kadang-kadang
diikuti muntah.
4.
Sakit kepala yang berat,
terus menerus, khususnya pada infeksi dengan plasmodium Falciparum.
5.
Dalam keadaan menahun
(kronis) gejala diatas, disertai pembesaran limpa.
6.
Malaria berat, seperti
gejala diatas disertai kejang-kejang dan penurunan.
7.
Pada anak, makin muda
usia makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret
(diare) dan pusat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat
kunjungan ke atau berasal dari daerah malaria.
8.
Gejala klasik malaria
merupakan suatu paroksisme biasanya terdiri atas 3 stadium yang berurutan yaitu
:
a)
Stadium dingin (cold
stage).
Stadium ini mulai dengan menggigil dan
perasaan yang sangat dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup
tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat
tetapi lemah. Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan
pucat. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang.
Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.
b)
Stadium demam (Hot
stage).
Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan.
Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala
menjadi-jadi dan muntah kerap terjadi, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya
penderita merasa sangat hasil dan suhu badan dapat meningkat sampai 41°C atau
lebih. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Demam disebabkan oleh
pecahnya sison darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah kedalam
aliran darah.
Pada plasmodium vivax dan P. ovate sison-sison dari setiap generasi menjadi
matang setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap tiga hari terhitung
dari serangan demam sebelumnya. Nama malaria tertiana bersumber dari fenomena ini.
Pada plasmodium malariaa, fenomena tersebut 72 jam sehingga disebut malaria P.
vivax/P. ovale, hanya interval demamnya tidak jelas. Serangan demam di ikuti
oleh periode laten yang lamanya tergantung pada proses pertumbuhan parasit dan
tingkat kekebalan yang kemudian timbul pada penderita.
c)
Stadium berkeringat
(sweating stage).
Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat
tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang sampai dibawah
suhu normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari
tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini berlangsung antara
2 sampai 4 jam. Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama pada
setiap penderita, tergantung pada species parasit dan umur dari penderita,
gejala klinis yang berat biasanya teljadi pada malaria tropika yang disebabkan
oleh plasmodium falciparum. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan
parasit (bentuk trofosoit dan sison). Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ
tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh
darah pada organ-organ tubuh tersebut.
Gejala mungkin berupa koma/pingsan,
kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. Kematian paling banyak
disebabkan oleh jenis malaria ini. Kadang–kadang gejalanya mirip kholera atau
dysentri. Black water fever yang merupakan gejala berat adalah munculnya
hemoglobin pada air seni yang menyebabkan warna air seni menjadi merah tua atau
hitam. Gejala lain dari black water fever adalah ikterus dan muntah-muntah yang
warnanya sama dengan warna empedu, black water fever biasanya dijumpai pada
mereka yang menderita infeksi P. falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi
yang cukup berat.
D. Upaya pengendalian dan
Pengobatan Malaria
Terdapat beberapa upaya
yang dilakukan dalam program pencegahan malaria seperti pemakaian kelambu,
pengendalian vektor.
1.
Pemakaian Kelambu
2.
Pengendalian Vektor
Untuk meminimalkan
penularan malaria maka dilakukan upaya pengendalian terhadap Anopheles sp sebagai
nyamuk penular malaria. Beberapa upaya pengendalian vektor yang dilakukan
misalnya terhadap jentik dilakukan larviciding (tindakan pengendalian larva Anopheles
sp secara kimiawi, menggunakan insektisida), biological control (
menggunakan ikan pemakan jentik), manajemen lingkungan, dan lain-lain.
Pengendalian terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan penyemprotan dinding rumah
dengan insektisida (IRS/ indoors residual spraying) atau menggunakan
kelambu berinsektisida. Namun perlu ditekankan bahwa pengendalian vektor harus
dilakukan secara REESAA (rational, effective, efisien, suntainable,
affective dan affordable) mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas
dan bionomik vektor yang beraneka ragam sehingga pemetaan breeding places dan
perilaku nyamuk menjadi sangat penting. Untuk itu diperlukan peran pemerintah
daerah, seluruh stakeholders dan masyarakat dalam pengendalian vektor malaria.
3. Diagnosis dan Pengobatan
Selain pencegahan, diagnosis dan pengobatan malaria juga merupakan upaya
pengendalian malaria yang penting.
E. PengobatanMalaria
Memutus
rantai penularan dengan memilih mata rantai yang paling lemah. Mata rantai
tersebut adalah penderita dan nyamuk malaria. Seluruh penderita yang memiliki
tanda-tanda malaria diberi pengobatan pendahuluan dengan tujuan untuk
menghilangkan rasa sakit dan mencegah penularan selama 10 hari. Bagi penderita
yang dinyatakan positif menderita malaria setelah diuji di laboratorium, akan
diberi pengobatan secara sempurna. Bagi orang-orang yang akan masuk ke daerah
endemis malaria seperti para calon transmigran, perlu diberi obat
pencegahan.Obat–obat anti malaria,diantaranya:
1. Klorokuin
1. Klorokuin
Klorokuin
adalah bentuk sintetik 4-aminokuinolin, diproduksi dalam bentuk garam fosfat
untuk pemberian secara oral. Ekskresi klorokuin melalui urin dengan mas paruh
3-5 hari, namun waktu paruh eliminasi terminal mencapai 1-2 bulan. Klorokuin
bersifat skizontosida darah yang sangat efektif untuk semua jenis plasmodium
pafa manusia dan gametosida terhadap P.vivax, P.ovale dan P.malariae. Mekanisme
kerja klorokuin adalah menghambat polimerisasi produk sisa hemoglobin (heme)
menjadi hemozoin di dalam vakuol pencernaan parasit sehingga menghilangkan
toksisitas parasit karena pembentukan heme bebas.
2.
Kina dan Kuinidin
Kina
mulai dipakai sebagai OAM sejak tahun 1632. Obat ini merupakan alkaloid kinkona
yang dibuat dari ekstrak pohon kinkona di Amerika Selatan. Kuinidin adalah
dekstrorotatori stereoisomer dari kina.Mekanisme kerja kina sebagai OAM belum
sepenuhnya dipahami, diduga menghambat detoksifikasi heme parasit dalam vakuola
makanan.
3. Proguanil
Proguanil
adalah suatu biguanid yang dimetabolisme dalam tubuh (melalui enzim CYP2C19)
menjadi bentuk aktif sikloguanil. Sikloguanil menghambat pembentukan asam folat
dan asam nukleat, bersifat skizontosida darah yang bekera lambat, skizontosida
jaringan terhadap P.falcifarum, P.vivax, P.ovale, dan sporontosida.
4. Tetrasiklin
Tetrasiklin
bersifat skizontosida darah untuk semua spesies plasmodium yang bekerja lambat,
skizontosida jaringan untuk P.falcifarum.
5. Klindamisin
Obat
ini menghambat fase awal sintesis protein. Klindamisin bersifat skizontosida
darah yang bekerjalambat terhadap P.falciparum dan harus diberikan dalam
kombinasi dengan OAM lain seperti kina atau klorokuin.
F.
Tindakan-tindakan
Pencegahan:
1.
Usahakan tidur dengan
kelambu, memberi kawat kasa, memakai obat nyamuk bakar, menyemprot ruang tidur,
dan tindakan lain untuk mencegah nyamuk berkembang di rumah.
2.
Usaha pengobatan
pencegahan secara berkala, terutama di daerah endemis malaria.
3.
Menjaga kebersihan
lingkungan dengan membersihkan ruang tidur, semak-semak sekitar rumah, genangan
air, dan kandang-kandang ternak.
4.
Memperbanyak jumlah
ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci dengan menempatkan mereka di luar
rumah di dekat tempat nyamuk bertelur.
5.
Memelihara ikan pada
air yang tergenang, seperti kolam, sawah dan parit. Atau dengan memberi sedikit
minyak pada air yang tergenang.
6.
Menanam padi secara
serempak atau diselingi dengan tanaman kering atau pengeringan sawah secara
berkala
7.
Menyemprot rumah dengan
DDT.
G.
ASUHAN
KEPERAWATAN
1.
PENGKAJIAN
Dasar data pengkajian pada pasien
malaria
§ Aktivitas/ istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
§ Sirkulasi
Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut
perifer kuat dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis )
karena vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,penurunan
aliran darah.
§ Eliminasi
Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine
Tanda : Distensi abdomen
§ Makanan dan cairan
Gejala : Anoreksia mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan
Penurunan masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine.
§ Neuro sensori
Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas
deliriu atau koma.
§ Pernapasan.
Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .
Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
§ Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal,
keracunan alkohol, riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi/ prosedur
invasif, luka traumatik.
2.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan pada pasien
dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul dapat diuraikan
seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999):
1) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak sdekuat ;
anorexia; mual/muntah
2) Resiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh; prosedur tindakan invasif
3) Hipertermia berhubungan dengan
peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada
hipotalamus.
4) Perubahan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman
oksigen dan nutrient dalam tubuh.
5) Kurang pengetahuan, mengenai
penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
pemajanan/ mengingat kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
3.
INTERVENSI,
IMPLEMENTASI DAN RASIONAL TINDAKAN
Rencana keperawatan malaria
berdasarkan masing-masing diagnosa diatas adalah (Doengoes, Moorhouse dan
Geissler, 1999):
1) Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak sdekuat; anorexia;
mual/muntah .
Tindakan/ Intervensi :
o Kaji riwayat nutrisi, termasuk
makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan klien
Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas
kekeurangan konsumsi makanan.
o Berikan makan sedikit dan makanan
tambahan kecil yang tepat
Rasional : Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian
makan terlalu cepat setelah periode anoreksia
o Pertahankan jadwal penimbangan berat
badan secara teratur.
Rasional : Mengawasi penurunan berat badan atau efektifitas
nitervensi nutrisi
o Diskusikan yang disukai klien dan
masukan dalam diet murni.
Rasional : Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa
berpartisipasi/ kontrol
o Observasi dan catat kejadian mual/
muntah, dan gejala lain yang berhubungan
Rasional : Gejala GI dapat menunjukan efek anemia (hipoksia)
pada organ
o Kolaborasi untuk melakukan rujukan
ke ahli gizi
Rasional : Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang
memenuhi kebutuhan nutrisi.
2) Resiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan penurunan sistem tubuh (pertahanan utama tidak adekuat),
prosedur invasif.
Tindakan/ Intervensi :
o Pantau terhadap kecenderungan
peningkatan suhu tubuh.
Rasional : Demam disebabkan oleh efek endoktoksin pada
hipotalamus dan hipotermia adalah tanda tanda penting yang merefleksikan
perkembangan status syok/ penurunan perfusi jaringan.
o Amati adanya menggigil dan
diaforosis.
Rasional : Menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu
pada infeksi umum.
o Memantau tanda - tanda penyimpangan
kondisi/ kegagalan untuk memperbaiki selama masa terapi
Rasional : Dapat menunjukkan ketidak tepatan terapi
antibiotik atau pertumbuhan dari organisme.
o Berikan obat anti infeksi sesuai
petunjuk.
Rasional : Dapat membasmi/ memberikan imunitas sementara
untuk infeksi umum
o Dapatkan spisemen darah.
Rasional : Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi
malaria
3) Hipertermia berhubungan dengan
peningkatan metabolisme dehirasi efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
Tindakan/ intervensi :
o Pantau suhu pasien (derajat dan
pola), perhatikan menggigil.
Rasional : Hipertermi menunjukan proses penyakit infeksius
akut. Pola demam menunjukkan diagnosis.
o Pantau suhu lingkungan.
Rasional : Suhu ruangan/ jumlah selimut harus diubah untuk
mempertahankan suhu mendekati normal.
o Berikan kompres mandi hangat,
hindari penggunaan alkohol.
Rasional : Dapat membantu mengurangi demam, penggunaan
es/alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. Selain itu alkohol dapat
mengeringkan kulit.
o Berikan antipiretik.
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi
sentralnya pada hipotalamus.
o Berikan selimut pendingin.
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan
hipertermi.
4) Perubahan perfusi jaringan
berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman
oksigen dan nutrient dalam tubuh
Tindakan/ intervensi :
o Pertahankan tirah baring bantu
dengan aktivitas perawatan.
Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi
oksigen, memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan.
o Pantau terhadap kecenderungan
tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan nadi.
Rasional : Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan kuman
yang menyerang darah
o Perhatikan kualitas, kekuatan dari
denyut perifer.
Rasional : Pada awal nadi cepat kuat karena peningkatan
curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus
menerus, penurunan curah jantung dan vaso kontriksi perifer.
o Kaji frukuensi pernafasan kedalaman
dan kualitas. Perhatikan dispnea berat.
Rasional : Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon
terhadap efek-efek langsung dari kuman pada pusat pernafasan. Pernafasan
menjadi dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan, menimbulkan resiko
kegagalan pernafasan akut.
o Berikan cairan parenteral.
Rasional : Untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah
besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.
5) Kurang pengetahuan mengenai
penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
pemajanan/ mengingat kesalahasn interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
Tindakan/ intervensi:
o Tinjau proses penyakit dan harapan
masa depan.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat
membuat pilihan.
o Berikan informasi mengenai terapi
obat - obatan, interaksi obat, efek samping dan ketaatan terhadap program.
Rasional : Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja
sama dalam penyembuhan dan mengurangi kambuhnya komplikasi.
o Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan
nutrisional yang tepat dan seimbang.
Rasional : Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan
umum.
o Dorong periode istirahat dan
aktivitas yang terjadwal.
Rasional : Mencegah pemenatan, penghematan energi dan
meningkatkan penyembuhan.
o Tinjau perlunya kesehatan pribadi
dan kebersihan lingkungan.
Rasional : Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan
mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.
o Identifikasi tanda dan gejala yang
membutuhkan evaluasi medis.
Rasional : Pengenalan dini dari perkembangan / kambuhnya
infeksi.
o Tekankan pentingnya terapi
antibiotik sesuai kebutuhan.
Rasional : Pengguaan terhadap pencegahan terhadap infeksi.
4.
EVALUASI
Yang
dapat dilakukan saat evaluasi kondisi pasien malaria adalah :
·
Keluhan pasien
berkurang (tanda & gejala) dan hasil pemeriksaan LAB normal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Malaria adalah penyakit mematikan yang disebarkan
melalui perantara nyamuk anopheles. Malaria ialah penyakit yang disebabkan oleh
plasmodium. Plasmodium ialah parasit yang bersel tunggal yang terdiri atas 4
jenis plasmodium yaitu : a. Plasmadium vivax : yang menyebabkan malaria
tertiana benigna. b. Plasmadium ovale : yang menyebabkan malaria tertiana
benigna c. Plasmadium malariae : yang menyebabkan malaria quartana d.Plasmadium
falciparum: yang menyebabkan malaria tertiana maligna yang berat, Progresif dan
biasanya fatal. Penyakit ini dapat diobati dengan menggunakan tanaman obat
seperti, Klorokuin, Primakuin, Kina, Sulfadoksin pirimetamin (sp), Sambiloto,
Pulai, Johar, Bratawali, Vaksin. Agar kita terhindar dari penyakit malaria,
hendaknya kita melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk anopheles.
Pencegahannya bisa dengan menggunakan obat dan ada juga yang tanpa obat.
Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang
penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini.
Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat.
B.
Saran
Penyakit Malaria adalah penyakit yang kadang gejalanya
tidak kita ketahui. jadi, agar kita terhindar dari penyakit malaria hendaknya
kita melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk. pencegahan dapat
dilakukan dengan menggunakan obat dan ada juga yang tanpa obat .dan kita juga
harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal kita.
DaftarPustaka
Corwin Elisabeth J. HANDBOOK OF PATHOPHYSIOLOGI, 3rd Ed. Dalam: Yudha Egi
Komara, Wahyuningsih Esty, Yulianti Devi, Karyuni Pamilih Eko (Eds). 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doenges Marilynn E, Moorhouse Mary
Frances, Geissler Alice C. Nursing Care
Plans: Guidelines for Planning and Documenting Patient Care. Dalam: Ester
Monica, Asih Yasmin (Eds). 1999. RENCANA
ASUHAN KEPERAWATAN Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Harijanto P. N, Nugraha Agung, Gunawan
Carta A. 2009. Malaria dari Molekuler ke
Klinis Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar