Minggu, 16 Februari 2014

LP DBD



BAB I
PENDAHULUAN
I.       LATAR BELAKANG
Penyakit demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anal-anak
Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan karena masih banyak daerah edemik. Daerah edemik pada DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap kejadian luar biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengaan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan Pengasapan (fogging) secara massal , abatisasi massal , serta penggerakan Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus.
Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat penanganannya yang terlambat. Demam berdarah dengur (DBD) disebut Dengue Hemorrargic fever (DHF) , Dengue fever (DF) , Demam dengue ( DD) , dan Dengue shock syndrome (DSS).
II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Demam berdarah ?
2.      Apa penyebab dari penyakit demam berdarah ?
3.      Bagaimana tanda dan gejala demam berdarah ?
4.      Bagaimana pencegahan dari Demam Berdarah ?
III.             TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui apa itu demam berdarah
2.      Mengetahui penyebab dari demam berdarah
3.      Mengetahui tanda dan gejala serta pencegahan demam berdarah













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.       KONSEP DASAR DHF
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak – anak tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak – anak berusia di bawah 15 tahun disertai dengan perdarahan dan dapat  menimbulkan  syok  yang   disebabkan  virus  dengue  dan  penularan  melalui gigitan nyamuk Aedes.
Dengue Haemoragic Fever (DHF)adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan infestasi klinis dengan 5 – 7 hari disertai gejala perdarahan dan jika timbul  tengatan angka kematiannya cukup tinggi
II.    ETIOLOGI
Penyakit DBD atau DHF disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropod borne virus atau virus yang disebabkan oleh antropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus dari family flaviviridae.
Vector utama penyakit DBD adalah nyamuk aedes aegypti  (didaerah perkotaan) dan aedes albopictus  (daerah pedesaan).
Cirri-ciri nyamuk Aedes Aegypti  adalah :
1.      Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih
2.      Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi , WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung dan lain-lain.
3.      Jarak terbang ± 100m
4.      Nyamuk betina bersifat “multiple biters” (menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk terssebut kenyang sudah pindah tempat)
5.      Tahan dalam suhu panas dan kelembapan tinggi.


III. PATOFISIOLOGI
Nyamuk yang menjadi  vector penyakit DBD adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Selain itu virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya.
Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar air liurnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
Infeksi virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk kemudian bereplikasi (memperbanyak diri). Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk antibody, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigennya.
Kompleks antigen antibody tersebut akan melepaskan zat-zat yang merusak  sel-sel  pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Proses tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit. Akibatnya, tubuh akan mengalami perdarahan mulai dari bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah, berak darah) , saluran pernafasan (mimisan, batuk darah) dan organ vital (jantung, hati dan ginjal) yang sering mengakibatkan kematian.
IV. MANIFESTASI KLINIS
Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan, demam dengue, demam berdarah dengue sampai syndrome syok dengue. Timbulnya bervariasi berdasarkan derajat Demam berdarah dengue.
1.                  Fase pertama yang relatif ringan dengan demam mulai mendadak, malaise muntah, nyeri kepala, anoreksia, dan batuk.
2.                  Pada fase kedua ini penderita biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab, badan panas, maka merah, keringat banyak, gelisah, iritabel, dan nyeri mid-epigastrik. Seringkali ada petekie tersebar pada dahi dan tungkai, ekimosis spontan mungkin tampak, dan mudah memar serta berdarah pada tempat fungsi vena adalah lazim. Ruam makular atau makulopopular mungkin muncul dan mungkin ada sianosis sekeliling mulut dan perifer. Nadi  lemah cepat dan kecil dan suara jantung halus. Hati mungkin membesar sampai 4-6 cm dibawah tepi costa dan biasanya keras agak nyeri. Kurang dari 10% penderita ekimosis atau perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa syok yang tidak terkoreksi.
Menurut patokan dari WHO pada tahun 1975, diagnosa DBD (DHF) harus berdasarkan adanya gejala klinik sebagai berikut :
1.      Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas).
2.      Manifestasi perdarahan: paling tidak terdapat uji turnikel positif dari adanya salah satu bentuk perdarahan yang lain misalnya positif, ekimosis, epistaksis, perdarahan yang lain misalnya petekel, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematomesis.
3.      Pembesaran hati (sudah dapat diraba sifat permulaan sakit).
4.      Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang), disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut
Klasifikasi Demam Berdarah Dengue menurut WHO (1975)
Derajat I    :  Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turnikel
   positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
Derajat II    :  Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain.
Derajat III  :  Kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan lemah, hipotensi kulit dingin,
   lembab, gelisah.
Derajat IV   :  Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur.         

V.    TANDA DAN GEJALA
Pasien penyakit DBD pada umumnya disertai dengan tanda-tanda berikut :
1.      Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas
2.      Manifestasi perdarahan dengan tes Rumpel Leede (+), mulai dari petekie (+) sampai perdarahan spontan seperti mimisan , muntah darah, atau berak darah hitam
3.      Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal 150.000-300.000 µL) , hematokrit meningkat (normal : pria <45 , wanita <40)
4.      Akral dingin , gelisah , tidak sadar (DSS, Dengue Shock syndrome)

VI. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSA
Kriteria Diagnosis (WHO, 1997)       
1.      Criteria klinis
a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari.
b.Terdapat manifestasi perdarahan
c. Pembesaran hati
d.      Syok
2.      Criteria laboratories
a. Trombositopenia (<100.000/mm3)
b.Hemokonsentrasi ( Ht meningkat > 20%)
Seorang pasien dinyatakan menderita penyakit DBD bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif dan 1 hasil laboratorium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan maka pasien dinyatakan menderita demam dengue.
VII.          PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular lain didasarkan atas pemutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya.
Prinsip tepat dalam pencegahan DHF :
1.      manfaatkan  perubahan  keadaan  nyamuk  akibat  pengaruh  alamiah  dengan melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS
2.      memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia.
3.      Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4.      Mengusahakan  pemberantasan  vektor  di  semua  daerah  berpotensi  penularan tinggi
Pemberantasan  penyakit  Dengue  Haemoragic  Fever  (DHF)  ini  yang  paling penting  adalah  upaya  membasmi  jentik  nyamuk  penularan  ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu
1.      Menguras tempat – tampet penampungan air secara teratur sekurang – kurangnya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya
2.      Menutup rapat – rapat tempat penampung air dan
3.      Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan seperti → dilanjutkan di baliknya.



















ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
IDENTITAS
Umur
DHF  merupakan  penyakit  daerah  tropik  yang  sering  menyebabkan
kematian pada anak, remaja dan dewasa
Jenis kelamin
secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak
laki-laki.
Tempat tinggal
penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja,  kemudian  menyebar  kehampir  seluruh  kota  besar  di  Indonesia,  bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relative singkat.

RIWAYAT KEPERAWATAN
P (Provocative)    : Virus dengue.
Q (Quality)          : Keluhan dari ringan sampai berat.
R (Region)           : Semua sistem tubuh akan terganggu.
S (Severity)          : Dari Grade I, II, III sampai IV.
T (Time)               : Demam 5 – 8 hari, ruam 5 – 12 jam.

1.       Keluhan Utama
Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
2.       Riwayat Keperawatan Sekarang
Panas tinggi (Demam) 2 – 7 hari, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, ruam, malaise, mual, muntah, sakit kapala, sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati dan penurunan nafsu makan (anoreksia), perdarahan spontan.
3.      Riwayat Keperawatan Sebelumnya
Tidak ada hubungannya antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang.
4.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
5.      Riwayat Kesehatan Lingkungan
DHF ditularkan oleh nyamuk Aedes aigepty yang merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan  berkembang  biak  di  dalam  rumah,  yaitu  pada  tempat  penampungan  air bersih, seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. Dengan jarak terbang nyamuk  + 100 meter.
6.      Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
a.        Faktor Keturunan ; yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang tuanya.
b.      Faktor Hormonal ;  banyak  hormon  yang  berpengaruh  terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).
c.       Faktor Gizi ; Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik.
d.      Faktor Lingkungan; Terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan biologi dan lingkungan psikososial.
PEMERIKSAAN FISIK / PENGKAJIAN PERSISTEM
1.      Sistem Pernapasan / Respirasi
Sesak,  perdarahan  melalui  hidung  (epistaksis),  pernapasan  dangkal,  tachypnea, pergerakan  dada  simetris,  perkusi  sonor,  pada  auskultasi  terdengar  ronchi,  effuse pleura (crackless).
2.      Sistem Cardiovaskuler
a.       Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni.
b.      Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat (tachycardia), penurunan tekanan darah (hipotensi), cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari.
c.       Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
3.      Sistem Persyarafan / neurologi
Nyeri pada bagian kepala, bola mata dan persendian. Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS
4.       Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah.
5.       Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
Perdarahan pada gusi, Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa diserta dengan ikterus, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat muntah darah (hematemesis), berak darah (melena).
6.      Sistem integument
Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam), kulit kering, ruam makulopapular, pada grade  I  terdapat  positif  pada  uji  tourniquet,  terjadi  bintik  merah  seluruh  tubuh/ perdarahan dibawah kulit (petikie), pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
II.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Peningkatan  suhu  tubuh  (Hipertermi)  berhubungan  dengan  proses  infeksi  virus dengue (viremia).
2.      Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke 22 ekstravaskuler
3.       Resiko  syok  hypovolemik  berhubungan  dengan  perdarahan  yang  berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
4.      Resiko  gangguan  pemenuhan  kebutuhan  nutrisi  kurang  dari  kebutuhan  tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
5.      Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni )
6.       Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan
7.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

III. INTERVENSI
1
Peningkatan  suhu  tubuh  (Hipertermi)  berhubungan  dengan  proses  infeksi  virus dengue (viremia).
Tujuan             :  Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan.
Kriteria hasil    :  Suhu tubuh antara 36 – 37, membran mukosa basah, nadi dalam batas 
normal (80-100 x/mnt), Nyeri otot hilang.

Intervensi
Rasional

1.      Berikan kompres (air biasa / kran).

1.      Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi

2.      Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )

2.      Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi

3.      Anjurkan  keluarga  agar  mengenakan  pakaian  yang  tipis  dan  mudah menyerap keringat pada klien
3.      Memberikan  rasa  nyaman  dan  pakaian  yang  tipis  mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh

4.      Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
5.      Mendeteksi  dini  kekurangan  cairan  serta  mengetahui keseimbangan  cairan  dan  elektrolit  dalam  tubuh.  Tanda  vital  merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
2.
Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria : Input dan output seimbang, Vital sign dalam batas normal (TD 100/70
mmHg, N: 80-120x/mnt), Tidak ada tanda presyok, Akral hangat, Capilarry refill < 3
detik, Pulsasi kuat.

INTERVENSI
RASIONAL

1.      Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering
1.      Vital  sign  membantu  mengidentifikasi  fluktuasi  cairan Intravaskuler

2.      Observasi capillary Refill
2.      Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer


3.      Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi)
3.      Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral


IV.    PELAKSANAAN
Prinsip-prinsip pelaksanaan rencana askep pada anak dengan DBD/ DHF.
2.      Mempertahankan pemenuhan kebutuhan cairan.
3.      Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal.
4.      Mempertahankan kebutuhan nut risi.
5.      Mempertahankan perfusi jaringan perifer agar tetap adekuat.
6.      Mempertahankan rasa nyaman pasien.
7.      Mengurangi kecemasan klien.
V.       Evaluasi
1.      Mengukur pencapaian tujuan.
2.      Membandingkan tujuan yang telah ditetapkan.












BAB III
PENUTUP
I.          KESIMPULAN
Penyakit demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anal-anak.
Penyakit DBD atau DHF disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropod borne virus atau virus yang disebabkan oleh antropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus dari family flaviviridae.
Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular lain didasarkan atas pemutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya.
II.       SARAN
Kami sebagai penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna,untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan kami sebagai penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang Farmakologi dalam pemberian obat pada ganggua rasa nyaman. Serta makalah ini dapat dipergunakan dengan baik dan benar sehingga bermanfaat bagi pembaca semua.


















DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. (1999).  Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.
Widoyono. 2005. Penyakit tropis . Erlangga Medical Series . Jakarta
World health organization. 1999. Demam berdarah dengue ; diagnosis , pengobatan, pencegahan, dan pengendalian. Edisi 2. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar