Selasa, 18 Oktober 2016

Garis Batas

Garis Batas



Beberapa hari yang lalu saya membaca buku, judulnya Garis Batas (Perjalanan Di Negeri Asia Tengah. Buku ini ditulis oleh Agustinus Wibowo yang merupakan seorang Backpacker. Di buku ini Agustinus menuliskan perjalanannya ke Negara-negara yang terletak di Asia Tengah diantaranya adalah Tajikistan, Kirgizstan, Kazaktan, Uzbekistan, Turkmenistan.

Membaca buku ini kamu akan mendapatkan gambaran bagaimana Negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazaktan, Uzbekistan, Turkmenistan sekilas tentang keadaan kota yang ada di dalamnya, infrastuktur, kebudayaan, kebiasaan penduduknya, sistem birokrasi, pemerintahan, politik, sejarah, karakter penduduknya. Kamu seolah-olah ikut terbawa menjelajah ketika membaca setiap deret kalimat yang ada pada buku ini. Gaya kepenulisan buku ini sangat menarik bagi saya. Walaupun beberapa bagian saya skip, karena memang buku ini tebalnya 505 halaman. Penulis memulai perjalanannya mengembara pada tahun 2006-2007 melintasi Negara-negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazaktan, Uzbekistan, Turkmenistan. Butuh bertahun-tahun bagi penulis untuk merangkum kisah demi kisah yang telah terlewati hingga pada 2011 terbitlah buku ini.

Secara umum Negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazaktan, Uzbekistan, Turkmenistan mayoritas muslim namun banyak pula penduduk tidak mengimplementasikan ajaran agamanya seperti sholat dan puasa. Bahkan di ke 5 Negera ini vodka si minuman keras sudah menjadi minuman sehari-hari yang seolah-olah seudah melebur bersama aliran darah. Susah untuk dihilangkan walaupun islam melarang pemeluknya untuk minum minuman keras. Tapi di sini? Ahh entahlah apakah karena mereka tidak tahu? Tahu tetapi acuh?

Tajikistan
Akhiran kata stan, berasal dari bahasa Persia, istan, yang artinya “Tanah”. Jadi Tajikistan artinya tanah bangsa tajik. Kelahiran Negara-negara stan dibidani oleh komunis Rusia yang berhasil menduduki Asia Tengah. Dahulu kala ini adalah tanah lgendaris bernama Turkistan, negerinya bangsa Turki, umat muslim dengan peniggalan kota-kota jalur sutra yang  berkilauan. Untuk memperkuat kedudukannya, setalah melahap Kesultanan Bukhara dan Khiva, Rusia melakukan politik divide et impera, memecah Islam dan Turki. Dikirimlah para ahli etnografi dari Moskow ke Asia Tengah, untuk menemukan “perbedaan” bangsa-bangsa.
Lahirlah bangsa-bangsa yang baru. Ada kamu nomad Kirgiz dan Kazakh. Ada pengembara padang pasir Turkmen. Bangsa menetap yang berbahasa Turki didefenisikan sebagai Uzbek, yang berbahasa Persia menjadi Tajik. Pada tahun 1924. Orang Uzbek dan Turkmen masing-masing mendapat Uzbekistan-Turkmenia. Lalu muncullah Tajikistan, Kazakhstan dan Kirgizia. Sebagai Negara bagian di bawah Uni Soviet, semuanya berlabel “Republik Sosialis Soviet”, tungduk di bawah kendali Moskow. Setelah 60 tahun lebih berselang, barulah Tajikistan dapat menyebut diri dengan bangga sebagai “Republik Tajikistan”.
Tajikistn berbangga diri karena pegunungannya yang tidak kalah indah dari Swiss. Gambar gunung sampai masuk ke lambang Negara. Sekitar 93 persen wilayah Tajikistan adalah pegunungan, banyak yang berketinggian sampai empat ribuan meter lebih, hanya 7 persen sisa wilayahnya yang bisa digunakan untuk pertanian dan pemukiman. Dibandingkan dengan stan-satn lainnya. Tajikistan adalah yang terkecil sekaligus termiskin. Menurut data resmi pemerintah, penghasilan penduduk rata-rata perbulan Cuma 20 dolar, tunjangan pensiun 5 dolar, 45.000 Rupiah. Padahal harga 1 liter bensin 10.000 Rupiah. Walaupun miskin angka melek huruf di Tajikistan hamper seratus persen.
Pelajar di negeri ini, dari SD sampai universitas, memakai pakaian eksekutif bak pembisnis internasional. Walaupun bertolak belakang dengan keadaan hidup yang dijalani sehari-hari. Korupsi biasa dijalankan. Di saat bulan Ramadhan  pun restoran dan warung ramai sepeti biasa karena mayoritas penduduk tidak berpuasa, para lelaki Tajik asyik menegak vodka. Padahal negeri mayoritas muslim. Beberapa orang di saat hari Raya Idul Fitri hanya mebersihkan makam leluhur, mandi di pemandian air panas Bibi Fatima, tidak ada perayaan, tidak ada takbir.
Tajikistan, yang pernah menjadi bagian dari sebuah negeri adikuasa, kini teronggok di jajaran sepuluh Negara termiskin di dunia. Dulu, setiap Republik Sosialis Soviet diciptakan hanya sebaga onderdil yang mendukung perputaran roda mesin raksasa bernama Uni Soviet. Tajikistan dan negera “stan” lainnya, bukan dilahikan Stalin untuk merdeka dan berdaulat. Tajikistan tak punya banyak sumber daya mineral, tetapi punya dam-dam raksasa pembangkit listrik yang memasok energy berkali-lipat dari kebutuhan dalam negerinya. Negeri ini terjepit di tengah daratan asia, terkurung gunung, dan dirundung kemiskinan karena struktur ekonomi yang rapuh.
Murghab adalah sebuah kota perbatasan, bagian dari negarra Tajikistan, terletak berhadapan dengan Republik Rakyat Cina, raksasa komunisme lainnya di sebeah timur. Walaupun kedudukannya adalah kota terbesar kedua setelah Khorog di daerah pegunungan ini, Murghab juga sama terpuruknya. Penduduk bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga tak punya makanan. Tekanan ekonomi yang berat mendorong banyak pria Tajikistan meninggalkan negeri mereka, mereka membanjiri Rusia, Ukrainan dan Kazakhstan, umumnya sebagai kuli bangunan. Jumlah pekerja Tajikistan di Rusia mendekati anggka satu juta, sementara total penduduk negeri ini hanya sekitar 6 juta. Hidup di Rusia tidak seindah impian. Pekerja migrant harus jalani siksa lahir batin, tidur di gorong-gorong berdesakan di atas lantai lembab. Belum lagi perlakuan orang Rusia yang terkenal rasis terhadap bangsa-bangsa kulit berwarna. Masih ditambah pula dengan geng mafia kaum neo Nazi yang tak segan  menyiksa dan membantai orang asing. Bukannya terangkat hidupnya, beberapa keluarga pekerja yang menanti di pegunungan Tajikistan malah mendapat kiriman jasad suami atau putra mereka, langsung dari Moskow.

Kirgizstan
Osh, adalah kota ke dua terpeting di Kirgizstan. Nama kota Osh sudah ada sejak abad ke 11, berasal dari nama sebuah suku bangsa Persia, Ush, yang pernah tinggal di tempat ini. Tapi kebetulan dalam bahasa tajik, Osh berarti makanan.
Citra rasa makanan di Osh berkaitan dengan letaknya sebagai persimpangan budaya. Di sebelah timur, di balik barisan pegunungan Tianshan, ada Xinjiang Uyghur bagian dari Republik Rakyat Cina, didiami olehh etis Uyghur yang masihh berkelompok bangsa Turki, beragama Islam, dan pernah mendirikan Negara bernama Turkistan Timur. Di sebelah barat Osh, ada lembah Ferghana yang menjadi jantung kebudayaan bangsa Uzbek. Di sebelah selatan ada pegunungan Pamir milik Tajikistan. Di utara ada lembah dan padang rumput yang vital bagi kehidupan bangsa monad Kirgiz.
Kota-kota Kirgizstan jadi berbahaya ketika hari mulai gelap, karena bisa-bisa pemabuk melompat dari balik poho, menodong pisau. Kriminalitas yang disebabkan oleh alcohol, vodka terrorism, membuat malam di Kirgizstan menjadi penuh horror.
Di Biskek, ibukota Kirgizstan, orang berkulit putih mendominasi. Di antara Negara-negara yang baru berkoar tentang nasionalisme, Kirgizstan masih sulit melepaskan diri dari masa lalunya di bawah Uni Soviet. Di Ibu kota ini, bahasa nasional Kirgiz nyaris tak terdengar. Semua orang termasuk bangsa Kirgiz bicara berbahasa Rusia, yang bagi mereka terdengar lebih interlek dari pada bertutur dalam bahasa kaum nomad. Naionalisme kebangsaan di Kirgizstan pun menggebu ketika mereka memutuska untuk mengangat kembali bahasa Kirgiz. Pemerintah mewajibkan bahasa Kirgiz di sekolah dan tempat kerja.
Pada acara pernikahan ada suatu ritual dimana pengantin pria dan wanita menegak anggur sambil bersilang tangan. Dan para tamu juga menenggak alkohol di gelas masing-masing. Mayoritas mereka ini memang muslim, tetapi vodka dan anggur adalah minuman wajib.
Kazakhstan
Di atas peta Asia Tengah, Kazakhstan seperti raksasa besar dengan ke empat Negara lainnya hidup di bawah baying-bayangnya. Terbentang dari laut Kaspia di barat sampai ke perbatasan Cina di timur, di bagi menjadi dua zona waktu. Luas wiayah menempati urutan ke sembilan dunia, seluas seluruh eropa barat, masih lebih luas dari pada jika ke empat saudara Stan di gabung sekaligus, hamper satu setengah kali luas daratan Indonesia. Tapi penduduknya tak sampai 16 juta jiwa.
Dua lading minyak Kazakstan termasuk yang terbesar di muka bumi. Belum lagi cadangan alamnya di sekitar laut Kaspia. Pertumbuha ekonomi mlejit sampai 9 persen pertahun, ivestasi mengalir deras, kemakmuran membumbung. Sama-sama bekas bagian adikuasa Uni Soviet, sama-sama merdeka berbarengan, Kazakhstan terus memodernisasi diri, sementara Tajikistan masih harus tabah di barisan Negara termiskin di dunia.
Negara ini sebenarnya sudah bolak-balik pindah ibu kota mungkin bawaan karakter bangsa nomad yang berpindah di padang luas. Ketika pertama kali dilairkan oleh Uni Soviet, ibu kota Kazakhstan terletak di Orenburg (sekarang wilayah Rusia), lalu dipindahkan ke Kyzyl Orda, lalu pindah lagi ke Almaty, dan sekarang ke Almaty, dan sekarang ke Akmola. Tiga kali perpindahan yang terjadi dalam waktu kurang dari 100 tahun! Akmola, dalam bahasa Kazakh berarti “batu nisan putih”, sungguh nama yang tidak pantas untuk ibu kota Negara besar masa depan. Karena itu namanya diganti, Astana yang berarti ibu kota. Astana ibu kota terdingin ke dua di dunia setelah Ulanbataar di Mongolia. Di musim dingin suhu bisa anjlok sampai minus 40. Dan biaya hidup di Negara ini tergolong cukup mahal.
Di antara Stan-stan lain, Kazakhstan yang paling dekat dengan Rusia, baik secara geografis maupun cultural. Sejumlah besar penduduknya adalah etnis Rusia dan Eropa. Bangunannya, gaya hidup penduduknya, pola pikirnya, semua Rusia. Bahkan antara sesame orang Kazakh pun mereka lebih nyaman berbahasa Rusia. Banyak orang Kazakh yang tidak bisa bahasanya sendiri. Spanduk, iklan, papan baliho semua bahasa Rusia.
Di antara bangsa-bangsa lain di Asia Tengah, Kazakh adalah yang terakhir mendapat pengaruh Islam. Hanya tiga ratus tahun lalu seluruh bangsa nomad ini masuk Islam. Hanya tiga ratus tahun lalu seluruh bangsa nomad ini masuk Islam. Karena kultur nomad yang tidak terikat aturan ketat, Islam pun sangat longgar di sini. Minuman tradisional beralkohol kumis, dari susu kuda yang terfermentasi, tidak mungkin begitu saja di hapus dari kultur, nyaris tidak ada umat Muslim yang bisa baca huruf Arab atau mendirikan sholat. Ramadhan pun dilalui tanpa berpuasa. Rusia datang, pengaruh komunisme melekat, islam mekin memudar.
Tetapi sejak kemerdekaan Kazakhstan, islam pun perlahan-lahan kembali sebagai bagian dari penemuan jati diri, lepas dari baying-bayang Uni Soviet. Arab Saudi dan Turki membangun masjid dan sekolah, mengingatkan bagaimana seharusnya hidup sebagai Muslim. Sekarang di Almaty sudah berdiri beberapa masjid, megah di tengah kota yang semula hanya terkenal akan gereja katedral Kristen Ortodoksnya. Sepanjang perjalanan tampah hanya satu gadis berjibab di tengah metropolis Almaty.
Uzbekistan
Uzbekistan terkenal sebagai salah satu pecahan Soviet yang paling anti Rusia. Kenangan tentang “penjajahan” Rusia sebisa mungkin dihapuskan. Memori dilupakan. Patung-patung pahlawan komunis ditumbangkan. Nama pahlawan Rusia digusur dari papan jalan, diganti oleh pahlawan Uzbek. Bahasa Rusia diganti dengan bahasa Uzbek. Begitu merdeka, etnis Rusia tergusur kedudukannya. Yang dulunya penguasa sekarang menjadi warga kelas dua. Keturunan Rusia sulit mendapatkan pekerjaan, banyak yang terpaksa jadi pemulung dan pengemis.
Uzbekistan sebenarnya bukan Negara miskin. Sumber energy melimpah, tanah pertanian menghampar, bahkan emas pun terkandung di bawah buminya. Tetapi justru wajah kelabu yang tampak. Di Tashkent, bocah-bocah manis berkulit pucat bermata biru bening, mengorek sampah yang dibuang orang Uzbek.
Di Uzbekistan ada aturan. “uang yang dibawa keluar Uzbekistan tidak boleh lebih dari uang yang dibawa masuk. Orang asing waktu melintas batas. Semua harus ditulis jelas, mulai dari jumlah baju, tas, laptop, kamera, Dolar, Sum, Rubel, semuanya! Logika mereka sederhana, selisih uang itu adalah hasil kerja illegal si “pelaku” di Uzbekistan.
Barang-barang si Uzbekistan semakin mahal. Lupakan kartu kredit, kartu debit, dan berbagai fantasi futuristik lainnya. Di Negara ini yang dihargrai Cuma uang kontan, kemana-mana harus menggunakan uang Sum. Sedangkan nilai Sum terlalu kecil. Pecahan terbesar saja tak sampai US$1, Itupun susah mendaatkannya. Bayangkan membeli laptop hanya dengan uang kertas seribu rupiah. Kalau beli tiket pesawat selembar saja, uangnya sampai bertas-tas. Jemari-jemari kasir sangat fleksibel dan lincah.
Ekonomi tidak karuan, angka pengangguran terus melonjak, jurang sosial melebar, hidup semakin susah. Menjadikah kota yang tampak ceria dan bersahabat di siang hari menjadi kota hantu di waktu malam. Seorang berkebangsaan Prancis pernah kerampokan di apatemen. Laptop, TV, uang semuanya habis dirampok.
Keagungan kota suci terpancar dari Masjid Kalon yang berdiri megah mendominasi pemandangan. Kalon dalam bahasa Tajik berarti besar, sebesar keagungan itu. Menara Kalon, hamper seribu tahun usianya, menjulang tinggi, berselimut ukiran dan detail indah. Bentuknya sedikit mengerucut, dan dari puncaknya kita bisa meihat kota kuno Bukhara terhampar. Keindahan menara ini bahkan menggugah hati Genghis Khan, sang penakluk mongol yang terkenal bengis, membantai semua manusia dan hewan, serta menghancurkan peninggalan peradaban musuh. Keganasan Genghis Khan diibaratkan sebagai “bom atom” pada zamannya. Dikisahkan lebih dari 30.000 orang dibantai di Bukhara. Kepala manusia sampai membentuk piramida. Namun di depan menara Kalon, Genghis Khan terpekur. Menara ini dibiarkannya tetap berdiri sebagai pertanda rasa hormatnya.
Ketika Bukhara dipimpin para Khan, menara Kalon menjad tempat eksekusi. Khan terkenal kejam, sering melemparkan pelaku criminal dari puncak menara. Bayangkan para korban malang yang dilempar dari puncak sana. Dalam sekejap darah membanjiri dasar menara.
Dibandingkan dengan menaranya, masjid Kalon relative muda, “baru” sekitar 500 tahun umurnya. Masjid aslinya dihancurkan Genghis Khan. Sunyi tentunya adalah kata yang tak terbayangkan kala Bukhara menjadi kota paling modern di tengah padang Turkestan. Ribuan pria berserban dan berjubah dari seluruh penjuru padang datang menimba ilmu fikih dan sains. Iman Bukhari, putra Buhkara dari abad ke 9, mengembara ke negeri-negeri muslim, mengumpulkan sejarah peradaban Islam dan riwayat Nabi Muhammad, dan mengompilasikannya dalam sahih Bukhari. Ibnu Sina, bapak kedokteran dari zaman dinasti Somoni, juga mempelajari ilmu filsafat dan kedokteran di Bukhara. Sang pujangga Rudaki menghasilkan karya-karya agungnya di sini.
Kini masjid besar ini lengang. Orang-orang datang ke masjid waktu sholat, dan dalam sekejap kosong melompong setelah usai. Masjid yang dulunya mercusuar peradaban Muslim jadi gudang biasa di zaman Soviet. Dua puluhan ribu masjid yang ada di Uzbekistan ditutup oleh Stalin, dan ketika Uzbekistan merdeka, tak sampai seratus masjid yang tersisa. Salah satunya adalah masjid ini. Beroporasi kembali sebagai masjid yang sebenar-benarnya, tetapi sukar untuk kembali lagi ke masa berabad silam. Masa kejayaan itu sudah berlalu.
Islam menjadi masa lalu yang misterius. Ada kebanggaan di sana, tetapi terbungkus ketidaktahuan. Tradisi Islam terputus oleh puluhan oleh pemerintah komunis. Sholat, puasa, huruf-huruf arab, azan, begitu jauh dari kehidupan.
Orang Rusia membawa adat perayaan Tahun Baru ke negeri-negeri Stan sehingga pergantian tahun Masehi menjadi peringatan penting. Kota kuno Bukhara juga dihiasi spanduk berbahasa Rusia, “Selamat Tahun Baru 2007” siterklas tak pernah absen, di sini disebut sebagai “Kakek Tahun Baru” atau “Kakek Salju”. Menu wajib perayaan adalah kue tart dan vodka.
Ketika masih dipimpin oleh Khan, sebelum ditaklukan Tsar Rusia, Bukhara terkenal dengan tradisi Islam konservatif, dan  hidup dalam dunianya sendiri Negara-kota. Penguasa Rusia lalu “memaksa” perempuan untuk melepas kerudung burqa dan memperkenalkan sistem pendidikan Barat. Seperti pengembala Kazakh yang dijauhkan dari padang gembala, orang Tajik pun dijauhkan dari agama. Masjid berubah menjadi gudang, agama dilarang, ulama dibungkam.
Kultur Rusia jauh lebih mendominasi. Padahal, padahal, pada akhir abad ke 10, pangeran Vladimir Agung dari Rusia pernah mempelajari berbagai agama dunia untuk memilih agama yang cocok dari bangsa Rusia. Ia sempat mempertimbagkan Islam, tetapi Islam tidak dipilih karena banyak pantangan. Ucapan Vladimir yang terkenal, “Minum adalah kebahagian orang Rusia, dan orang Rusia tidak akan bisa hidup tanpa minum alcohol. Sekarang sukar sekali membayangkan Uzbekistan yang muslim ini hidup tanpa vodka. Minuman keras itu sudah ikut mengalir bersama darah orang Uzbek.
Hamper seratus tahun berada di bawah rezim komunis dan sekuler, karakter Islam di Uzbekistan banyak berubah. Madrasah menjadi museum atau took, masjid menjadi tempat wisata. Pasangan muda-mudi asyik bergandengan dan berpelukan menikmati keindahan arsitekur Islam. Bayangkan, ratusan tahun lalu, kota ini begitu konservatif dan trasisional, kaum perempuannya terbungkus kain tebal paranja yang menutup wajah dan tidak pernah keluar rumah. Tetapi kini gadis-gadis Tajik dan Uzbek berpakaian sangat trendi ala Barat, mengenakan rok mini, hak tinggi, dan stoking tembus pandang, bergandengan tangan dan menari dengan idaman hati. Tak jauh dari majid Bukhara juga dibangun diskotik bawah tanah, dimiliki oleh anggota keluarga presiden Islam Karimov nama yang juga mengandung “Islam”.
Dari segi tradisi pernikahan, bagi orang Uzbek, menikahkan anak gadis bukan hanya berarti memberikan putrid kepada keluarga lain, tetapi juga harus mengeuarkan banyak uang untuk membayar mas kawin. Anggapannya, semakin besar mas kawin, semakin tinggi kedudukan si gadis di mata keuarga suaminya, dan semakin berkurang perlakuan semena-mena di rumah barunya nanti.
Turkmenistan
Menurut kurs pemerintah, satu dolar Amarika setara dengan 5.500 Manat. Membeli manat di pintu gerbang. Si penjual menenteng tas plastic hitam dengan gepokan uang berbundel-bundel dibungkus kain kumal, persis seperti degangan pisang goring. Setiap dolar Amerika dihargai 25.000 Manat. Hamper 5 kali lipat kurs resmi. Pecahan terbesarnya hanya 10.000 Manat, tak sampai 4.000 Rupiah. Lebih parah dari pada di Uzbekistan. Sungguh mata uang yang “kuat”
“Abad ke -21 adalah abad emas Bangsa Turkmen”.  Slogan paling popular, tulisan wajib di setiap gedung pemerintah, melambangkan kerinduan akan detang nya “masa bahagia”. Abad emas. Negeri gurun pasir menjadi berlimpah air. Kota megah, listrik menerangi kegelapan. Penduduk bersuka cita karena semuanya gratis.
“Selamat Datang di Negeri Kami yang Bermandi Sinar Matahari” . baliho besar bergambar pemandangan Ashgabat yang cerah. “Ruhnama , Jalan Hidup Kita” menjawab masalah spiritual orang Turkmen. Ruhnama adalah kitab gubahan sang pemimpin.
Turkmenbashi berasal dari kota Turmen dan bash-kepala, “Peimpin orang Turkmen”. Nama aslinya bukan Turkmenbashi, melainkan Saparmurat Niyazob, yang menganugrahkan gelar ini pada dirinya sendiri tahun 1993, dan pada 1999 diangkat menjadi presiden seumur hidup.
Wajah Saparmurat Turkmenbashi menghiasi setiap jalanan Ashgabat. Gedung-gedung kmentrian selalu dihiasi patung-patung emas sang pemimpin. Semua saluran televise juga pasti memasang gambar sang pabak agung di pojok kanan atas. Nama desa, kota, pelabuhan, jalan, bandara, diganti dengan namanya, nama orang tuanya, juga konsep-konsep agung ciptaannya.
Nama bulan-bulan di penanggalan pun diganti, januari, palingg terhormat untuk mengawali tahun, tentu saja untuk sang pemimpin Turmenbashi. Bulan April untuk ibunda tercinta , Gurbansoltan Eje. Ada juga nama-nama yang sangat berbau propaganda, seperti bulan Netralis, Bendera, dan Kemerdekaan. Sementara untuk libur nasional ada hari bendera (hari kemerdekaan), hari kuda, hari puisi, hari karpet, hari melon, hari roti, hari Turkmenbashi, hari “bertetangga baik” dan hari netralitas.
Tiket pesawat dari Ashagab ke Turkenabat harganya hanya sekitar 14.000 rupiah. Harga seliter bensin hanya 300 manat, sekitar 120 rupiah. Mau isi bensin  full tank pun tak sampai sepuluh ribu. Karcis bus kota Cuma 50 Manat, 20 Rupiah saja, gas, air, listrik, semua gratis.
Turkmenbahsi sang presiden, begitu sempurna ! tentunya figure pemimpin yang senantiasa ditampilkan adalah kesemurnaannya, kehebatan pemikirannya, kebijaksanaannya, kecerdasannya, keluarbiasaannya, kepahlawanannya..tak pernah sang pemimpin terlihat bersendawa, mengantuk, menguap, melongo, menghujat, sedih, kesakitan, keseleo lidah, atau segala macam tindak-tanduk anusiawi lainnya. Para jurnalis dan kameraman harus berhati-hati dalam menggambarkannya kalau tidak ingin dipecat. Sang pemimpin selalu dibungkus selubung misteri, dibumbui seremonial dan mitos yang semakin memperkuat karakter kedewaannya.
Televise Turkmenistan punya sajian khusus setiap hari: pembacaan dan diskusi Ruhnama. Sebaliknya internet adalah tabu, Turkmenbashi menutup semua warnet di kota ini, dan sekarang Cuma ada satu warnet di Ashgabat. Harga aksesnya 100.000 manat atau sekitar 38.000 Rupiah per jam. Setara dengan tiket pesawat domestic pergi-pulang. Semua pengunjung harus menunjukan dokumen lengkap dan pemerintah terus memantau laman apa saja yang dikunjungi.
Membangun pagar mereka tinggi-tinggi, garis batas begitu kokoh menyekat, mengurug, mengisolasi, dalam ketetertutupan, penduduk dicekoki pemahaman. Presidenmu adalah penyelamatmu.
Turkmenbashi adalah penulis buku terlaris di seluruh negeri. Toko-toko buku yang berterbaran di seluruh Ashgabat. Hamper semua buku yang dijual adaah karya sang presiden. Ruhnama, dari kata ruh dan nama, artinya “kitab jiwa” tujuannya untuk mempersiapkan roh dan jiwa bangsa Turkmen untuk menyambut datangnya era baru, Abad Emas yang telah berabad-abad dinantikan kedatangannya, bukan hanya ditulis dalam bahasa Turkmen, tetapi ada versi terjemahan bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Cina, Jepang, Arab, Hungaria, Ceko, Korea, Hindi, Thai sampai Zulu. Lebih dari 25 bahasa di dunia. Turkmenbashi juga berhasrat cita-cita dan buah pikirannya dibaca seluruh umat manusia. Penerjemahan Ruhnama sekan menjadi syarat tak tertulis bagi perusahaan asing untuk memenangkan tender investasi di negeri ini.
Turkmenbashi adalah pemimpin yang murah hati. Terjemahkan bukunya, maka anda akan mendapat hibah jutaan dolar. Begitu buku itu terbit, televise akan sibuk menayangkan. “Wahai Turkmen, Pranis sekarang memuja keluhuran Ruhnama dan penduduk yang terisolasi dari informasi, semakin terpukau dan mengamini Ruhnama. Di museum terpampang peta dunia, yang ditandai Negara-negara mana saja yang sudah “menerima” Ruhnama.
Di dalam negeri, Ruhnama mengiringi detak jantung, embusan napas, dan sirkulasi darah dalam setiap manusia Turkmen. Buku ini adalah buku wajib bagi semua warga Negara, dari balita hingga orang jompo. Semua harus belajar Ruhnama, dan harus siap dites hafalannya, pemahamannya, dan pengalamannya. Bahkan untuk mengambil Surat Izin Mengemudi pun orang harus lulus ujian Ruhnama dulu. Hari sabtu sudah diganti namanya menjadi Ruhgun. Hari ruh, hari khusus untuk membaca Ruhnama. Tidak ada alas an tak punya waktu membaca.
Presiden Turkmenbashi pernah bertitah, “Saya sudah meminta Allah untuk mengizinkan orang yang membaca Ruhnama tiga kali supaya langsung masuk surga”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar