Minggu, 23 Oktober 2016

Seni Mendengarkan

Assalamualaikum wr wb
Semoga hari hari dalam hidup, kita jalani dengan penuh semangat positif, semoga setiap detik yang kita lalui semakin membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dan semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosa kita dan semoga hidup kita dirahmati oleh-Nya.
Saya baru saja menyelesaikan membaca buku, dengan tebal 147 halaman. Buku ini bisa dibaca sekali duduk walaupun bagi anda yang tidak suka baca. judulnya “Badai Pasti Berlalu” ditulis oleh Chandra Putra Negara. Saya rasa penulis nya cukup terkenal, so..saya tidak mengupas sekilas pun tentang penulisnya di sini. Jika penasaran langsung Tanya sama mbah Google aja ya, hehe…
Karena buku ini bagus menurut saya maka saya ingin berbagi. Untuk postingan kali ini saya akan menampilkan cerita yang saya rasa mengandung banyak pelajaran.




Seni “MENDENGARKAN”
Sesuatu yang TAK TERDENGAR

“Adalah wilayah ilmu untuk berbicara, sedangkan hak kearifan adalah mendengarkan”
_Oliver Wendell Holmes

Raja Zhao, yang memerintah sebuah kerajan di abad ketiga, mengirim putranya pengeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke sebuah kuil dimana seorang guru besar, Pan Ku berada. Chao Chan akan dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap mengganti ayahnya sebagai raja.
Sehari setlah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku justru mengajak Chao Chan masuk ke dalam hutan lalu meninggalkannya seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya di tengah hutan itu. “Tinggallah di sini dan belajarlah pada alam, satu bulan lagi aku akan datang menjemputmu,” demikian kata Pan Ku.
Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pengeran di dalam hutan dan bertanya “katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara apa saja yang telah engkau dengar?”
“Guru,” jawab pangeran “Saya telah mendengar kokok ayam hutan, jengkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau, serigala melolong..,” dan masih banyak lagi suara yang disebutkan oleh Chao Chan.
Usia Pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru besar Pan Ku memerintahkanya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah disebutkannya. Untuk kesekian kalinya, Chao Chan tidak habis mengerti dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak suara yang telah didengarkannya? Chao Chan termenung setiap hari dan terus berpikir keras untuk menemukan suara apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang Pan Ku.
Tetapi tetap saja ia tidak menemukan suara lain kecuali yang selama ini ia dengar. Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila direrumputan dan mulailah bermeditasi. Dalam kesuyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengarkan suara yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan menemukan pencerahan “Pasti inilah suara-suara yang dimaksud oleh guru”, Teriaknya dalam hati.
Akhirnya, tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pengeran bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannnya, “Guru”, ujarnya, “ketika saya membuka telinga dan hati saya lebar-lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar, seperti suara bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bum, dan suara rumput minum embun pagi.” Pan Ku tersenyum lega seraya mangut-mangut mengiyakannya, lalu katanya, “Mampu mendengarkan suara yang tidak terdengar adalah pelajaran wajib yang paling penting bagi siapa pun yang ingin menjadi pemimpin yang baik.”
Ia melanjutkan, “Karena, setelah seorang mampu mendengar suara hati pengikutnya, mendengar perasaan yang tak terekspresikan, kesakitan yang tak terungkapkan, keluhan yang tak terucapkan, maka barulah seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya akan mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para pengikutnya.

Kemampuan seperti itu dapat mengantar seseorang untuk mampu membaca hikmah dari suatu musibah, serta dapat menangkap makna dibalik suatu bencana yang menimpa dirinya. Bahkan, dia mampu memahami apa yang tak terucapkan dari orang-orang atau lingkungan sekitarnya dan bergerak untuk membantu mereka.


Sekian dulu untuk cerita pengantar tidur yang sarat makna ini. Semoga kita dapat berjumpa lagi dipostingan berikutnya…
Salam Hebat Luar Biasa…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar