Minggu, 30 Oktober 2016

Kisah Seorang Veteran Perang



Pada 1986, di kota New York diadakan lomba marathon international yang diikuti oleh ribuan pelari dari berbagai penjuru dunia. Lomba ini mengambil jarak 42 km dengan track mengelilingi kota New York. Jutaan orang dari seluruh dunia ikut menonton acara tersebut melalui televisi yang menyiarkan acara besar ini secara langsung.
Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob adaah seorang veteran Amerika, dia kehilangan ke dua kakinya karena terkena ranjau saat pereng  di Vietnam, untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan. Begitu lomba dimulai, ribuan pesarta mulai berlari secapat mungkin ke garis finish. Wajah-wajah mereka menunjukan semangat yang kuat. Para penonton tak henti-hentinya bertepk tangan untuk terus mendukung para pelari tersebut. 5 km telah berlalu. Di situ mulai tampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-iseng atau meramaikan kegiatan itu.
Beberapa peserta sudah tampak kelelahan, mereka memutuskan untuk berhenti dan naik ke bus panitia. Sementara hampir seluruh peserta telah berada di km 5 hingga km 10, Bob baru menyelesaikan kilometer yang pertama. Bob berhenti sebentar, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian berlari dengan mengayunkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya. Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya menyemangati, “Ayo Bob! Ayo Bob! Lari terus! Kamu pasti bisa!” karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km selama 1 hari. Di malam hari, Bob tidur di sleeping bag yang telah dipersiapkan oleh paniti yang mengikutinya.
Akhirnya 4 hari berlalu, dan hari itu adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal 2 km lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 m lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling, fisik Bob benar-benar sudah kehabisan tenaga. Bob perlahan-lahan bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Tangan Bob terlihat sudah berlumur darah, ada yang tampak mongering malah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah. Bukan karena luka di tangannya saja, tetapi juga kondisi jantung dan pernapasannya. Dia menyarankan agar Bob berhenti demi kebaikan dirinya.
Bob memejamkan matan beberapa saat. Saran si dokter tentu dia pikirkan dengan baik-baik. Dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengarkan suara ayahnya yang berteriak, “Ayo Bob, bangkit! Selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Buka matamu, tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish sudah di depan mata. Ayo cepat bangun! Jangan menyerah! Cepat bangkit!!”
Pelan-pelan Bob mulai membuka matanya kembali. Saat itulah matanya melihat garis finish yang sudah dekat, semangatnya mulai membara kembali, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat ke depan. “Ya, Ayo Bob..satu lompatan lagi, Bob. Capailah apa yang kamu inginkan, Bob!” teriak ayhnya yang terus berlari mendampinginya, dan akhirnya, satu lompatan terakhir Bob membuat tubuhnya melampauigaris finish.
Saat itu meldakah gemuruh tepuk tangan dari para penonton yang berada di tempat it. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon. Beberapa saat kemudian, ketika ada puluhan wartawan yng menemuinya, Bob berkata: “Saya bukan orang hebat, anda tahu saya tidak punya kaki lagi, saya hanya mencapai apa yang talah saya inginkan. Kebahagiaan yang saya dapat bukan dari apayang saya dapatkan, tapi dari proses untuk mendapatannya. Selama lomba, fisik saya menurun drastic, tangan saya sudah hncur berdarah-darah. Tapi ras sakit saya bukan karena luka itu, tetapi ketika saya memalingksn wajah saya dari garis finish. Jadi saya kembali focus menatap goal saya. Saya rasa tidak ada orang yang gagal dalam lari marathon ini. Tidak masalah anda akan mencapainya dalam waktu berapa lama, asal anda terus berlari sampai tujuan anda telah tercapai.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar