Minggu, 30 Oktober 2016

MENGINGAT KEMBALI HAKIKAT REZEKI

“Rezeki adalah segala sesuatu yang didapat oleh makhluk selama hidupnya dalam bentuk apa pun, materi atau nonmateri, dimiliki atau tidak, banyak atau sedikit, positif atau negative, bahkan halal ataupun haram”

Jabir bin Abdillah ra berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. “Wahai manusia, bertakwalah kepada kalian kepada Allah dan perbaikilah di dalam mencari (rezeki). Karena sesungguhnya setiap yang bernyawa tidak akan pernah mati sampai dia menyempurnakan rezekinya…” (HR Ibnu Majah).

Sebenarnya tidak ada istilah “Rezeki yang sempit” karena pemberian Allah begitu luas dan tak terhitung. Muculnya pendapat “Rezeki yang sempit” justru disebabkan oleh sempitnya pandangan manusia yang beranggapan bahwa rezeki hanya soal materi. “kalau yang dianggap rezeki itu Cuma yang ada di saku. Bakal repot hidup ini. Karena yang di saku itu yang terhitung. Sedangkan kita banyak mendapakan sesuatu yang tidak bisa kita hitung.

Kemudian kita mungkin tergelitik untuk bertanya. Bila rezeki bisa halal atau haram, mengapa Allah member kita rezeki yang haram??
Aspek halal-haram dalam rezeki berkaitan dengan dimensi madah (materi) dan prosesnya. Ada beberapa benda atau makanan yang memang zatnya haram dan ada yang zatnya halal tapi proses mendapatkannya haram.
Proses masuknya rezeki  yang haram itu melibatkan aktivitas manusia. Sementara manusia diberikan akal untuk bisa menentukan pilihan. Firman Allah swt “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams :8-10). Jika seorang manusia memilih untuk membeli minuman keras daripada susu. Maka ia akan mendapatkan rezeki berupa minuman keras itu. Disaat yang bersamaan ia juga merugi karena mengotori jiwa dengan dosa.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al-Lauh Al-Mahfuz). (QS Hud:6).

Namun di sisi lain. Allah juga memerintahkan manusia untuk berikhtiar mencari rezeki. Lantas apa peran ikhtiar jika rezeki sudah ditetapkan bahkan sebelum kita terlahir?
Posisi ikhtiar adalah sebagai bentuk peribadahan kepada Allah. “Allah menciptakan manusia untuk beribadah. Bukan hanya dengan sholat, zakat, dan puasa. Tapi beribadah dalam segala aktivitasnya. Termasuk dalam berikhtiar mencari rezeki.
Ikhtiar bukan satu-satunya factor kondisional yang harus dilakukan manusa dalam menjemput rezeki, factor yang lain adalah tawakal. Nabi saw bersabda. “Jika kalian bertawakal dengan tawakal yang sebenar-benarnya. Niscaya Allah akan member rezeki kepada kalian. Sebagimana Dia telah member rezeki kepada burung yang berangkat (pagi) dengan perut kosong, dan pulang dengan (perut) kenyang.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Cerita menarik tentang ikhtiar dan tawakal ini. “Dahulu, Imam Malik berselisih paham dengan muridnya. Imam Syafi’i. Imam Malik berpendapat bahwa tawakallah yang mengundang rezeki, sedangkan Imam Syafi’I berpendapat ikhtiar yang bisa mengundang rezeki. Karena tidak sepakat, Imam Syafi’I keluar dari majelis lalu menawarkan bantuan pada pedagang kurma untuk menggotong kurmanya. Atas jasanya. Imam Syafi’i lalu menghampiri Imam Malik dan berkata. “Wahai guru, pendapatku benar, ikhtiarlah yang mengundang rezeki. Kalau aku tidak membantu pedagang kurma tadi, aku tidak akan mendapatkan kurma.” Kata Imam Syafi’I sambil meletakkan sebutir kurma di tangan gurunya. Lalu Imam Malik berkata, “lalu bagaimana dengan buah kurma yang kau letakkan di tanganku?” aku hanya berserah diri kepada Allah, lalu kurma ini datang padaku.” Jadi. Dua-duanya benar, kita perlu ikhtiar dan juga harus tawakal.” Begitulah, ikhtiar dan tawakal bagaikan dua buah sayap yang mengantarkan kita terbang menjemput rezeki dari Yang Maha Pemberi Rezeki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar